Yesus Kristus bukan hanya manusia biasa, tetapi adalah Allah sendiri yang masuk ke dalam dunia, dikandung oleh Roh Kudus dan disebut Anak Allah yang kudus. Keilahiannya dinyatakan sejak awal, bukan berasal dari benih manusia, melainkan dari kuasa Allah yang Mahatinggi. Hanya Yesus yang layak disebut kudus dan Anak Allah, menegaskan bahwa Ia adalah Allah yang menjadi manusia, yang setara dengan Allah Bapa, dan memiliki kuasa atas segala sesuatu. Dalam segala karya dan perkataan-Nya, Yesus menunjukkan keilahian-Nya yang unik dan tak tertandingi. [10:28]
Lukas 1:35 (TB):
Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah."
Reflection: Apakah Anda sungguh percaya bahwa Yesus adalah Allah yang kudus dan ilahi? Bagaimana keyakinan ini mengubah cara Anda memandang hidup dan pergumulan hari ini?
Yesus bukan hanya Allah yang jauh di surga, tetapi Ia juga menjadi manusia sejati, lahir dari Maria, dinamai Immanuel—Allah beserta kita. Ia mengalami kelahiran, penderitaan, bahkan kematian, dan turut merasakan kelemahan serta pergumulan manusia. Karena itu, Yesus sungguh mengerti setiap kesulitan dan penderitaan yang kita alami, dan Ia adalah satu-satunya pribadi yang benar-benar dapat menolong dan memberi solusi bagi hidup kita. [18:40]
Matius 1:23 (TB):
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel" — yang berarti: Allah menyertai kita.
Reflection: Dalam pergumulan atau kelemahan apa Anda merasa sendirian? Bagaimana Anda dapat menyerahkan persoalan itu kepada Yesus yang sungguh mengerti dan menyertai Anda hari ini?
Iman Kristen tidak dibangun di atas mitos atau dongeng, melainkan pada fakta sejarah yang dapat ditelusuri dan dibuktikan. Yesus benar-benar hidup, menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dan peristiwa-peristiwa hidup-Nya tercatat dalam sejarah dunia. Nama-nama, tempat, dan waktu dalam kisah Yesus dapat diverifikasi, sehingga iman kita kokoh karena berdiri di atas kebenaran yang nyata, bukan sekadar kepercayaan buta. [24:22]
Matius 27:11-14 (TB):
11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri; dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."
12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.
13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.
Reflection: Apakah Anda pernah meragukan kebenaran iman Kristen? Luangkan waktu hari ini untuk mencari satu bukti sejarah tentang Yesus dan renungkan bagaimana hal itu meneguhkan iman Anda.
Yesus memiliki segala kuasa di surga dan di bumi, dan Ia berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman. Ia bukan hanya sanggup memelihara tubuh jasmani kita, tetapi juga sanggup menyelamatkan kita dari maut dan memberi hidup yang kekal. Dalam masa-masa sulit, kita dipanggil untuk tetap percaya dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya, sebab hanya Yesus yang dapat memberi jaminan kekal dan damai sejati di tengah segala perkara. [16:30]
Matius 28:18-20 (TB):
18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Reflection: Dalam situasi sulit apa Anda perlu mempercayakan hidup sepenuhnya kepada kuasa dan penyertaan Yesus hari ini? Apa langkah konkret yang bisa Anda ambil untuk menunjukkan kepercayaan itu?
Iman Kristen adalah pengakuan yang diikrarkan dengan teguh, meski menghadapi tantangan dan ujian. Seperti Perpetua dan para saksi iman lainnya, kita dipanggil untuk tidak malu atau minder dengan iman kita, melainkan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan benar. Kebahagiaan sejati adalah bagi mereka yang percaya, meski tidak melihat, dan tetap setia menjalani panggilan sebagai saksi Kristus di dunia. [27:40]
Yohanes 20:29 (TB):
Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Reflection: Siapa satu orang di sekitar Anda yang perlu mendengar kesaksian tentang iman Anda kepada Yesus? Bagaimana Anda dapat membagikan kebenaran itu dengan kasih dan keberanian hari ini?
Pengakuan iman kita sebagai orang Kristen bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan setiap minggu, melainkan fondasi hidup yang diuji terutama di masa-masa sulit seperti pandemi ini. Ketika kita berkata, “Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak darah Maria, yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,” kita sedang menegaskan keunikan Yesus yang tidak ada duanya di seluruh jagad raya. Keunikan ini terletak pada tiga hal: Yesus adalah ilahi, insani, dan nyata dalam sejarah.
Pertama, Yesus adalah ilahi. Alkitab menegaskan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus, bukan dari benih manusia. Ia adalah Allah yang masuk ke dalam dunia, mengambil rupa manusia, namun tetap setara dengan Allah. Segala mujizat dan karya-Nya membuktikan keilahian-Nya—dari mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, hingga kebangkitan-Nya sendiri. Ia adalah “I Am”, Yahweh yang kekal, yang berkuasa atas hidup dan mati.
Kedua, Yesus adalah insani. Ia lahir dari Maria, mengalami kehidupan manusiawi sepenuhnya—lahir, diberi nama, merasakan penderitaan, bahkan kematian. Ia bukan Allah yang jauh dan tak terjangkau, melainkan Allah yang turun ke dunia, merasakan kelemahan dan pergumulan kita, namun tanpa dosa. Karena itu, Ia sungguh mengerti dan mampu menolong kita dalam setiap pergumulan.
Ketiga, Yesus adalah nyata dalam sejarah. Kisah-Nya bukan mitos atau dongeng, melainkan fakta sejarah yang dapat ditelusuri, bahkan dicatat oleh sumber-sumber di luar Alkitab. Nama Pilatus, pemerintahan Romawi, dan peristiwa-peristiwa seputar penyaliban-Nya adalah bukti historis yang kokoh. Iman kita bukanlah kepercayaan kosong, melainkan berdiri di atas dasar yang dapat diuji dan dibuktikan.
Di tengah tekanan hidup, kesulitan ekonomi, dan ketidakpastian, pengakuan iman ini menjadi jangkar yang meneguhkan. Yesus yang ilahi, insani, dan historis adalah Pribadi yang layak kita percayai dan andalkan. Mari tetap teguh, jangan minder dengan iman kita, dan jalani panggilan untuk bersaksi tentang kebenaran ini, sebab Yesus sungguh-sungguh hadir, mengerti, dan menyertai kita.
I'm an AI bot trained specifically on the sermon from Apr 26, 2020. Do you have any questions about it?
Add this chatbot onto your site with the embed code below
<iframe frameborder="0" src="https://pastors.ai/sermonWidget/sermon/the-uniqueness-of-jesus-faith-in-difficult-times" width="100%" height="100%" style="height:100vh;"></iframe>Copy